Jumat, 04 Maret 2011

SOLIDARITAS WANITA DAN DOMINASI PRIA DALAM DRAMA TRIFLES KARYA SUSAN GLASPELL

Oleh

Rida Wahyuningrum


1. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Aristoteles menyatakan bahwa pengarang tidak semata-mata menjiplak kenyataan melainkan sebagai sebuah proses kreatif (Van Luxemburg, 1986:17) Pada hakikatnya sang pengarang dalam menciptakan karya sastra melalui daya imajinasinya dipengaruhi oleh situasi dan kondisi lingkungan. Mengacu pada apa yang dikatakan Aristoteles, pengaruh situasi dan kondisi lingkungan tidaklah mutlak seperti yang terlihat dalam karya sastra. Ini berarti ada upaya untuk mempertontonkan aspirasi, disamping kenyataan, dalam memahami hidup dan kehidupan. Seperti yang sering dikatakan bahwa belajar memahami sastra adalah belajar memahami kehidupan itu sendiri.

Dalam tulisan ini, penulis mengkaji karya sastra dalam bentuk drama yang ditulis oleh wanita Amerika kelahiran Davenport, Iowa (1882-1948) berjudul Trifles. Dari sekian judul drama yang ditulisnya, seperti The Outside (1917), The Comic Artist (1927) dan Allison’s House (1930), dia juga menulis novel Fidelity (1915) dan pernah menjadi wartawati di Des Moines Daily News dan Des Moines Capital.

Sebagai bahan kajian, karya Glaspell ini mengulas tema feminisme. Feminisme pada dasarnya berawal dari penindasan yang dilakukan oleh pria terhadap kehidupan wanita yang akhirnya menimbulkan bentuk-bentuk diskriminasi. Dalam hal ini penulis tertarik mengambil masalah feminisme yang dikaitkan dengan teori sosiologi sastra. Alasan-alasan yang mendasari adalah: satu, peran wanita begitu kompleks dan beragam tetapi masih saja peran seperti itu dianggap sebagai sesuatu yang wajar dan tidak penting. Berangkat dari hal yang tidak penting itulah masalah gender dan sistem patriarkal hidup subur sehingga keberadaan wanita yang seharusnya dihargai sama dengan pria menjadi kabur. Kedua, drama Trifles mengungkap hal-halyang luar biasa yang dapat dilakukan oleh wanita dalam mengemban misi feminisme.


1.2. Rumusan Masalah
Makalah ini mencoba mengulas beberapa aspek sosiologi yang muncul dalam drama berjudul Trifles karya Susan Glaspell. Adapun rincian masalah yang berkenaan dengan aspek sosiologi tersebut adalah sebagai berikut:
1.2.1. Sistem patriarkal terhadap kehidupan wanita.
1.2.2. Penganiayaan oleh wanita terhadap pria.
1.2.3. Solidaritas kaum wanita dalam nafas feminisme.

1.3. Tujuan
Tujuan makalah ini adalah mencoba mendeskripsikan :
1.3.1. Kuatnya sistem partiarkal terhadap kehidupan wanita .
1.3.2. Kejahatan yang dilakukan oleh wanita terhadap pria.
1.3.3. Solidaritas kaum wanita dalam nafas feminisme.

2. KAJIAN PUSTAKA
2.1. Pendekatan Sosiologi Sastra
Pengkajian drama Trifles karya Susan Glaspell ini merupakan penelitian yang menggunakan kajian sosiologi sastra. Menurut Abrams (Sariban, 2004:16), istilah “sosiologi sastra” dalam ilmu sastra dimaksudkan untuk menyebut para kritikus ahli sejarah sastra. Dalam hal ini mereka memusatkan pada hubungan antara pengarang dengan kelas sosial, status sosial dan ideologinya, kondisi ekonomi dalam profesinya dan model pembaca yang dituju karya sastra. Ini merujuk pada pernyataan bahwa karya sastra secara mutlak dikondisikan oleh lingkungan dan kekuatan sosial pada periode tertentu.

Dalam sosiologi sastra ditemukan tiga macam pendekatan, yaitu: (1) sosiologi pengarang, (2) sosiologi karya, dan (3) sosiologi pembaca. Sosiologi pengarang memfokuskan perhatiannya pada latar belakang sosial pengarang, sumber ekonomi pengarang, ideologi pengarang, dan integrasi pengarang. Sosiologi karya sastra memfokuskan perhatianya pada isi teks karya sastra, tujuan karya sastra, dan masalah sosial yang terdapat dalam karya sastra. Adapun sosiologi pembaca, memfokuskan penelitiannya pada latar belakang sosial pembaca, dampak sosial karya sastra terhadap pembaca, perkembangan sosial pembaca (Wellek dan Warren, 1993:111-112) Berkenaan dengan kutipan di atas, tindak pengkajian terhadap karya sastra harus mempertimbangkan faktor-faktor sosial yang berlaku pada masa tertentu.

Teeuw (1988:173) menyatakan bahwa pemahaman terhadap karya sastra harus mempertimbangkan struktur teks dan pengarang. Pengarang sebagai pribadi memiliki kepribadian, cita-cita, dan norma-norma yang harus dianut dalam kultur sosial tertentu. Dengan demikian, pemahaman terhadap karya sastra tidak boleh lepas dari konteks di luar karya sastra, yaitu pengarang dan masyarakat.

Dalam makalah ini, penulis memfokuskan pada sosiologi karya sastra. Hal itu dikarenakan penulis mencoba mengungkap masalah-masalah yang terdapat dalam drama Trifles karya Susan Glaspell.

2.2. Teori Hegemoni
2.2.1. Batasan Istilah Hegemoni
Gramsci (Faruk, 1994:62) memandang persoalan kultural dan formasi ideologis amatlah penting karena didalamnya berlangsung proses yang rumit. Itu disebabkan gagasan-gagasan atau opini tidak lahir begitu saja dari otak individual, melainkan mempunyai pusat formasi irradiasi penyebaran dan persuasi. Kemampuan gagasan/opini menguasai seluruh lapisan masyarakat merupakan puncaknya. Dan oleh Gramsci puncak itu disebut hegemoni.

Secara literal hegemoni berarti “kepemimpinan” dan lebih sering digunakan oleh para komentator politik untuk menunjuk pada pengertian dominasi (Ibid.) Tetapi bagi Gramsci konsep hegemoni digunakannya untuk meneliti bentuk-bentuk politis kultura ldan ideologis tertentu dalam suatu masyarakat, suatu kelas fundamental yang dapat membangun kepemimpinannya sebagai sesuatu yang berbeda dari bentuk-bentuk dominasi yang bersifat memaksa. Apabila marxisme ortodoks memberikan tekanan secara liberal pada peranan gagasan-gagasan Gramsci berpegang teguh pada penyatuan kedua aspek itu secara bersama-sama. Salah satu cara dimana “pemimpin” dan “yang dipimpin” disatukan adalah lewat “kepercayaan-kepercayaan popular”.

Kepercayaan popular adalah kekuatan material yang tersebar sedemikian rupa sehingga mempengaruhi cara pandang seseorang tentang dunia. Ada tiga cara penyebarannya yaitu melalui: (1) bahasa (2) common sense, dan (3) folklor. Dalam pengaruh hegemoni manusia dalam masa membutuhkan pemahaman kritis mengenai dirinya sendiri yang memungkinkannya mengambil tempat dalam perjuangan melawan hegemoni politik dan kontradiksi. Kesadaran untuk menjadi bagian dari kekuatan hegemoni yang khusus adalah tahap pertama ke arah kesadaran diri yang progresif yang di dalamnya teori dan praktek menjadi satu (Ibid. hal.73)

2.2.2. Hegemoni dalam Studi Sastra
Teori hegemoni Gramscian akhirnya membuka dimensi baru dalam studi sosiologi mengenai sastra. Sastra kemudian dipahami sebagai kekuatan sosial politik dan kultural yang berdiri sendiri yang mempunyai sistem sendiri, meskipun tidakterlepas dariinfrastrukturnya (Ibid. hal.78)

Dalam penerapannya ada dua jenis studi sastra yang mengaplikasi teori hegemoni diatas. Pertama adalah studi sastra Raymond Williams yang menitikberatkan pada bentuk-bentuk kesusastraan yang di satu pihak menerima konflik ataupertentangan kelas tetapi di lain pihak percaya bahwa konflik atau pertentangan itu dapat dihindari atau direkonsiliasi. Di sini terdapat istilah kesustraan borjuasi, aristrokasi dan kelas pekerja. Kedua, Tony Davies menggambarkan kesustraan tidak hanya berupa reproduksi atau cermin pasif dari bahasa standard yang menjadi bahas nasional tersebut melainkan secara aktif ikut membentuknya. Dengan cara itu kesusastraan sekaligus berfungsi sebagai pembangun citra kesatuan imajiner dari suatu formasi sosial yang disebut sebagai suatu bangsa, suatu negara kebangsaan (Ibid. hal.85)

Jadi apa yang dianggap penting oleh Gramsci mengenai persoalan kultural dan formasi ideologis dapat diaplikasikan dalam kesustraan dalam bentuk hegemoni dalam karya sastra.
.
2.3. Teori Feminisme
2.3.1. Batasan Istilah Feminisme
Batasan atau definisi feminisme pada dasarnya mengacu pada apa yang dikatakan Freeman (1984:552) yaitu “ … full equality for women in a truly equal partnership with men”. Secara umum dapat dikatakan feminisme adalah gerakan kaum wanita yang menuntut persamaan hak sepenuhnya antara kaum wanita dan pria. Menurut sejarah, gerakan wanita bermula pada tahun 1848 sampai 1920. Misi utama mereka adalah memperjuangkan hak pilih bagi wanita yang pada waktu itu belum diakui dan peluang bagi wanita dalam pasar kerja (Budianta, 2000:7)

Feminisme kemudian terbagi menjadi tiga fase (Ibid.), yaitu: (1) Fase Liberal yang memperjuangkan kesamaan hak, (2) Fase Radikal yang menolak tatanan simbolik yang didominasi pria demi mengukuhkan perbedaan itu sendiri, (3) Fase Ketiga yang menggoyahkan dikotomi antara maskulin dan feminin.

2.3.2. Pergerakan Kaum Wanita
Menurut Djajanegara (dalam Saraswati, 2003:155) ada beberapa aspek yang memicu munculnya gerakan feminisme di Barat, yaitu: (1) Aspek Politik yang menunjukkan adanya perubahan redaksi didalam Deklarasi Kemerdekaan Amerika yang berbunyi “all men and women are created equal” pada tahun 1848 pada sebuah konvensi di Seneca Falls, (2) Aspek agama yang mendudukkan wanita sebagai kaum inferior. Menurut Ajaran Martin Luther dan John Calvin, walaupun pria dan wanita bisa berhubungan langsung dengan Tuhan, wanita tidak layak bepergian karena harus tinggal di rumah dan mengatur rumah tangganya, (3) Aspek sosialisme dan Marxis yang mengemukakan bahwa di dalam keluarga, suami mewakili kaum borjuis sedangkan wanita mewakili kaum proletar.

Akhirnya lahirlah sebuah pergerakan wanita yang oleh Freeman (1984:546)
digambarkan sebagai berikut:

“Women come to see themselves and other women as essentially worthwhile and interesting. With this realization the myth of the individual solution explodes.Women come to believe that if they are the way they are because of society they can change their lives significantly only by changing society. These feelings in turn create in each a consciousness of herself as a member of a group and the feeling of solidarity … From this awareness comes the concept of sisterhood”.
(Freeman, 1984:546)

2.3.3. Hambatan-hambatan dalam Pergerakan Kaum Wanita
Karena dominasi pria ruang gerak wanita dalam kehidupannya nampak sangat terbatasi. Pembatasan tersebut membuat para wanita menemui berbagai hambatan dalam partisipasinya dalam kehidupan bermasyarakatnya. Berkenaan dengan hal itu terdapat dua faktor penting yang dianggap sebagai cikal bakal dari apa yang wanita tidak mampu melakukan kehidupan bermasyarakatnya yaitu: (1) Faktor Gender dan (2) Faktor Sistem Patriarkal.

2.3.3.1. Masalah Gender
Gender didefinisikan sebagai pembagian manusia menjadi laki-laki (maskulin) dan perempuan (feminin) berdasarkan konstruksi sosial budaya (Sugihastuti dan Suharto 2000:333). Budianta (1998:6) menambahkan bahwa gender dapat definisikan sebagai pembedaan-pembedaan yang bersifat sosial yang dikenakan atas perbedaan-perbedaan biologis atau perbedaan yang nampak antara jenis-jenis kelamin. Wanita harus memakai rok dan menghabiskan waktunya didapursedangkan pria memakai celana dan menyukai kegiatan-kegiatan fisik diluar rumah.

Demikianlah, sebab masalah gender para wanita seakan tidak memiliki kebebasan dalam hal mengekspresikan pendapat ide gagasan hanya karena dominasi pria. Tambahanlagi wanita merasa inferior hanya karena pria itu superior. Halitu diwujudkan dalam tindakan harus mematuhi apa yang dikatakan para pria terhadap wanita baik dalam lingkup keluarga maupun lingkup kehidupan bermasyarakat.

2.3.3.2. Sistem Patriarkal
Sistem patriarkal didefinisikan sebagai sebutan terhadap sistem yang melalui tatanan sosial politik dan ekonominya memberikan prioritas dan kekuasaan terhadap laki-laki dan dengan demikian secara langsung maupun tidak langsung dengan kasat mata maupun tersamar melakukan penindasan atau subordinasi terhadap perempuan (Budianta 200:7)

Sebuah pernyataan yang cukup luar biasa mengenai sistem ini diberikan oleh Gilbert (dalam Davis and Schleifer, 1989:492) yaitu: “ … patriarchal values control even the most rebellious (and creative) of women”. Artinya nilai-nilai yang ada dalam sistem patriarkal bahkan dapat menahan wanita-wanita yang paling pemberontak atau kreatif sekalipun.

2.3.4. Pendekatan Feminisme dalam Karya Sastra
Djayanegara (2000:51-53) menyebutkan tiga langkah pendekatan feminisme dalam karya sastra yaitu: (1) mengidentifikasi satu atau beberapa tokoh wanita didalam sebuah karya sastra dalam arti mencari kedudukan tokoh-tokoh itudalam masyarakat. Ini akan mengacu pada tujuan hidupnya dan memperhatikan pendirian serta ucapan tokoh wanita yang bersangkutan, (2) meneliti tokoh lain terutama tokoh laki-laki yang meiliki keterkaitan dengan tokoh perempuan yang sedang kita amati (3) mengamati sikap penulis karya yang sedang kita kaji.

2.4. Unsur-unsur Drama
Drama secara umum terbagi dalam unsur-unsur sebagai berikut:


2.4.1. Latar
Latar berperan sangat penting dalam sebuah drama karena ia mengacu pada waktu dan tempat dimana rangkaian peristiwa yang tersusun dalam alur tertentu terjadi. Miller and Cluely berpendapat bahwa latar bisa menjadi bentuk simbolisme utama karena fitur-fitur lingkungan yang dipilih dalam drama itu menjadibegitusimbolis tidakhanya bagi para tokoh didalamnya tetapi juga bagi pembacanya. Simbolis bagi para tokoh karena hal itu menjadi cerminan mimpi mereka dan menjadi informasi tambahan mengenai kepribadian mereka.

Sehubungan dengan feminisme, kutipan di atas dapat mengacu pada tokoh-tokoh wanita dan kepribadiannya yang terlihat dalam drama “Trifles”. Seperti apa yang dikatakan Djayanegara (2002:23) bahwa seorang pembaca laki-laki yang tidak pernah mengalami atau membaca tentang latar dalam tulisan perempuan tidak akan sanggup mengerti sepenuhnya pecakapan atau tindakan-tindakan tokoh perempuan.

2.4.2. Tokoh dan Penokohan
Tokoh merupakan unsur dasar dalam sebuah karya sastra imaginatif dan oleh sebab itu tokoh layak mendapatkan perhatian yang lebih banyak (Potter 1967:1) Sedangkan penokohan digambarkan sebagai penyajian watak penciptaan citra atau pelukisan gambaran tentang seorang yang ditampilkan sebagai tokoh cerita (Sugihastuti dan Suharto, 2002:50)

2.4.3. Alur
Di dalam sebuah cerita rekaan peristiwa-peristiwa disajikan dengan urutan tertentu, peristiwa yang diurutkan itu membangun tulang punggung cerita. Inilah yang disebut plot (Ibid. hal. 46) Di lain pihak, struktur alur terdiridari: (1) Exposition, bagian cerita dimana tiap-tiap tokoh diperkenalkan dengan situasi latar belakang merka masing-masing, (2) Initial Moment, bagian dimana konflik dimunculkan, (3) Conflict, bagian yang dimunculkan karena adanya initial moment, (4) Complication, bagian yang diciptaka sedemikian rupa dimana sang tokoh mendapati masalahnya, (5) Crisis, bagian yang disebut dengan turning point, (6) Climax, bagian yang menunjukkan peristiwa dimana krisis pada puncaknya, (7) Denoument, bagian penyelesaian dari masalah sang tokoh (Miller and Cluely, tanpa tahun: 22-23)

Mengenai konflik, Weber (1991:181) mengatakan bahwa diperlukan dua orang yang saling melawan atau kekeuatan untuk menghasilkan konflik sebagai dasar sebuah alur. Tanpa adanya saling perlawanan atau oposisi maka konflik tidak pernah ada dan tanpa konflik maka tidak tercipta sebuah alur.

Likumahuwa (2001:82) membagi tiga macam konflik dalam drama yaitu: (1) Konflik sosial, konflik antar manusia, (2) konflik batin, konflik yang terjadi dalam diri seseorang-konflik dengan dirinya sendiri karena kesulitan memilih antara dua hal yangsama pentingnya namun tidak bisa keduanya dipilih sekaligus, (3) Konflik elemental, konflik antar manusia dengan alam atau lingkungannya.

2.4.4. Nada
Dengan adanya nada yang dimaksud adalah ekspresi sikap. Dalam bahasa tulis nada termasuk dalam bahasa fiksi yang menampakkan sikap penulis terhadap subjek tulisannya dan terhadap pembacanya (Kenney 1968:68)

Sehubungan dengan feminisme, Djayanegara (2000:54) menyatakan bahwa nada cerita pada umumnya mampu mengungkapkan maksud penulis dalam menghadirkan tokoh yang akan ditentang atau didukung feminis.

3. PEMBAHASAN
3.1. Dominasi Pria terhadap Wanita dalam Sistem Patriarkal
Keberadaan pria yang didukung oleh sistem patriarkal dalam kehidupan sosial yang digambarkan dalam drama ini dapat dideskripsikan dengan jelas melalui latar dan percakapan tokoh-tokohnya.

3.1.1. Latar yang Dipilih
Tentang pemilihan latar, secara simbolis dapur merupakan tempat yang paling akrab bagi wanita. Di tempat itulah kebanyakan wanita menghabiskan hari-harinya mengerjakan tugas-tugas rumah tangganya. Tetapi, perbedaan dalam memilih tempat atau area dalam dapur sekalipun ternyata memberi perbedaan yang berarti bagi pria dan wanita. Para pria, seperti yang digambarkan dalam drama ini, lebih suka memilih tempat yang hangat dan nyaman, yaitu di dekat kompor. Lain halnya dengan para wanita. Mereka memilih tempat yang jauh dari rasa hangat, yaitu berdiri di dekat pintu. Secara simbolis, perbedaan dalam memilih tempat menyiratkan suatu perbedaan antara kedudukan pria dan wanita. Wanita terlihat tidak memiliki pilihan atau memang sudah tahu tempatnya dimana ketika mereka berada dengan pria. Hal itu ditunjukkan dalam kutipan berikut yang memperlihatkan penolakan Nyonya Peters terhadap ajakan Jaksa Daerah untuk duduk di dekat api (kompor).

County Attorney: (Rubbing his hands.) This feels good. Come up to the fire, ladies.

Mrs. Peters : (After taking a step forward.) I’m not-cold.
(Kennedy dan Gioia, 2003:870)

Pria dianggap selalu mencari tempat yang lebih nyaman dalam arti posisi yang lebih tinggi wanita. Ini menggambarkan betapa mereka bebas melakukanhal itu tanpa harus mempertimbangkan perasaan wanita di sekitarnya. Sedangkan wanita, yang memilih tempat atau area yang “dingin” menyiratkan posisi mereka yang inferior terhadap pria. Sebuah posisi dimana mereka harus mempertimbangkan apa yang mereka lakukan dihadapan pria disekitarnya.

Tetapi justru dalam pemilihan latar seperti ini, Glaspell dengan cerdiknya memperlihatkan betapa hebatnya wanita. Pemilihan dapur sebagai latar mengantar pada sebuah penemuan barang bukti yang dapat memenjarakan teman mereka, Minnie Foster atau Nyonya Wright. Tentu saja para pria itu tidak dapat mendapatkan motif atau barang bukti di tempat kejadian karena mereka terkesan meremehkan dapur yang dianggap terdapat barang-barang yang tidak penting. Mereka gagal menanggapi apa yang dilakukan wanita di tempatnya. Dengan kata lain, mereka tidak memahami wanita.

3.1.2. Percakapan Tokoh Nyonya Hale
Dominasi pria yang melingkupi segi struktural sosial dan ekonomi sangat jelas terlihat dalam drama ini. Pria adalah makhluk yang kuat dan harus dihormati karena mereka adalah yang bekerja dan memberi nafkah. Dalam segi sosial, para pria memiliki kedudukan yang lebih tinggi daripada wanita. Mereka bisa jadi pemimpin, meniti karir tertentu, dan memutuskan suatu masalah. Para wanita, sebaliknya, digambarkan sebagai sosok kaum lemah yang bergantung pada “belas kasihan” pria. Tugas utamanya adalah mengurus rumah tangga dan suami.

Apa yang dilakukan pria sebagai bentuk dominasi terhadap wanita diperlihatkan oleh perilaku John Wright terhadap istrinya melalui tokoh Nyonya Hale. Pertama, John Wright sangatlah protektif terhadap Minnie, istrinya. Minnie sangat jarang terlihat dengan para wanita dalam perkumpulan The Ladies’ Aid. Lagipula, kesenangan wanita pada fashion nampaknya tidak begitu diperhatikan oleh Wright terhadap istrinya.

Mrs. Hale: Wright was close. I think maybe that’s why she kept so much to herself. She didn’t even belong to the Ladies’ Aid. I suppose she felt she couldn’t do her part and Then you don’t enjoy things when you feel shabby.
(Kennedy dan Gioia, 2003:874)

Kedua, John Wright adalah orang yang memutuskan harus tinggal dimana dan apakah istrinya harus turut atau tidak. Ini terlihat bagaimana Minnie bisa bertahan hidup dengan John Wright di rumah pertanian (farm) yang sebagian besar wanita tidak menyukai tinggal di sana.

Mrs. Hale: I stayed away because it weren’t cheerful-and that’s why I ought to have come. I-I’ve never liked this place. Maybe because it’s down in a holoow, and you don’t see the road. I dunno what it is, but it’s lonesome place and always was. I wish I had come to see Minnie Foster sometimes.
(Kennedy and Gioia, 2003:877)

Ketiga, John Wright sama sekali tidak memperhatikan apa yang menjadi kesenangan istrinya dan bahkan tidak memahaminya. Minnie memiliki bakat menyanyi dan ia sangat senang dengan menyanyi. Pada waktu mudanya ia adalah penyanyi paduan suara gereja dan suara dan gayanya memukau yang melihatnya. Di dalam kesunyiannya mengurus pekerjaan pertanian dan rumah tangga dan suami yang selalu meninggalkannya untuk bekerja di luar, ia memiliki burung Kenari. Burung inilah satu-satunya teman baginya dalam mengarungi kehidupan di tanah pertanian yang sunyi dan jauh dari keramaian kota.

Mrs. Hale: … There was a man around last year selling canaries cheap, but I don’t know as she took one; maybe she did.She used tosing real pretty herself.
(Kennedy and Gioia, 2003:876)

Hal ini memperlihatkan bahwa Minnie sebagai seorang wanita harus menerima apa yang telah ditakdirkan baginya. Ia tidak memprotes keadaannya dan kenyataannya ia tidak pernah meminta pertolongan orang lain mengenai masalah hidupnya sampai akhirnya pada kematian suaminya. Hal ini menunjukkan betapa sistem patriarkal dianut sedemikian rupa sehingga para wanita terlihat harus menerima apa yang sudah digariskan dalam hidup mereka.

3.1.3. Percakapan Tokoh Pria
Percakapan tokoh pria yang terdiri dari Sheriff, County Attorney, dan Mr. Hale memberi kesan meremehkan pada posisi wanita dan apa yang dikerjakan oleh mereka. Pertama, mereka mengomentari dapur sebagai tempat yang tidak akan ditemukannya barang-barang penting apalagi bukti-bukti penting dari pembunuhan ini.

Count Attorney: (Looking around.) I guess we’ll go upstairs first-and then out to the barn and around there. (To the Sheriff) You’re convinced that there was nothing important here-nothing that would point to any motive.

Sheriff: Nothing here but kitchen things.
(Kennedy and Gioia, 2003:872)


Kedua, mereka meremehkan perasaan wanita mengenai hal-hal yang dikerjakan mereka.

Sheriff: Well, you can beat the women! Held for murder and worrying about her preserves.
Hale: Well, women are used to worrying over trifles.
(Kennedy and Gioia, 2003:872)

Dari apa yang telah diulas di atas, jelas terlihat bagaimana bentuk dominasi pria terhadap wanita dan kehidupannya yang terbelenggu oleh sistem patriarkal. Dengan kata lain, kehidupan wanita yang digambarkan dalam drama ini mengalami hegemoni dari pria.

3.2. Tindak Kriminal oleh Wanita terhadap Pria
Dalam Trifles diceritakan bahwa Minnie Foster atau Nyonya Wright dicurigai sebagai pelaku tunggal pembunuhan atas suaminya. Kecurigaan itu timbul setelah diadakannya pemeriksaan menyeluruh di rumahnya, terutama di tempat kejadian yaitu di kamar tidur. Menurut County Attorney, tidak mungkin Minnie tidak bangun apabila ada orang yang berusaha membunuh suaminya pada saat mereka tidur. Masalahnya mereka harus mencari motif atau barang bukti.

Alasan atau motif dan barang bukti, ironisnya, justru ditemukan oleh Nyonya Hale and Nyonya Peters yang berada di dapur. Mereka menemukan sangkar burung yang rusak dan bangkai burung Kenari dalam kotak yang apik.

Mrs. Peters: (Looking in cupboard.) Why, here’s a birdcage. (Holds it up.) Does she have a bird, Mrs. Hale?

Mrs. Hale: What a pretty box. … There’s something wrapped up in this piece of silk.

Mrs. Peters: It’s the bird. Somebody-wrung-its-neck.
(Kennedy and Gioia, 2003:876)

Dari apa yang mereka temukan mereka berkesimpulan bahwa Minnie adalah pelakunya. Kesimpulan mereka itu didasarkan pada hal-hal yang selama ini mungkin menimpa Minnie.

Pertama. Kehidupan rumah tangga Minnie dan John tidaklah harmonis. Disamping tidak dikaruniai anak, Minnie harus bekerja keras mengurusi pekerjaan rumah dan membantu John bekerja di ladang. Sungguh suatu pekerjaan yang berat tetapi Minnie tidak pernah mengeluh. Disamping itu Minnie harus menghadapi sikap John yang terlalu protektif terhadap dirinya dan aneh menurut teman-temannya.

Kedua, secara psikologis Minnie amat tertekan dengan rutinitas sehari-hari sehingga ia perlu mencari kesenangan yang dapat menghibur dirinya tanpa harus keluar rumah. Akhirnya ia memelihara burung Kenari dalam sangkar yang setiap saat bisa menemaninya bersiul atau menyanyi. Minnie pada waktu mudanya adalah penyanyi paduan suara yang bagus.

Akhirnya, Minnie kehilangan apa yang menurutnya sangat berharga dalam hidupnya selama ini ketika ia menemukan burungnya mati tercekik lehernya. Dan yang terjadi adalah rasa dendam yang tiada taranya dalam diri seorang wanita terhadap pria yang telah menganiaya sesuatu miliknya yang begitu berharga. Sebagai seorang wanita, Minnie melihat John begitu semena-mena kepada dirinya dan akhirnya pada burung Kenari kesayangannya. Mungkin Minnie masih bisa bersabar dengan segala beban pekerjaan rutinnya sebagai seorang wanita dibawah sistem patriarkal. Tetapi begitu ia dihadapkan pada kematian burung Kenari kesayangannya, Minnie merasa telah kehilangan “kebebasan”nya. “Kebebasan” inilah bagi dirinya sangat berharga sehingga ia melakukan suatu tindakan penganiayaan (yang juga tindakan kriminal) terhadap suaminya sendiri.

Yang menarik adalah justru dari sebab musababnya pembunuhan itu. Banyak orang mengatakan bahwa suatu tindakan kriminal sering dipicu oleh hal-hal yang yang remeh. Apa yang dianggap Minnie sebagai sesuatu yang berharga nampaknya telah dianggap remeh oleh John. John sebagai suami kurang bisa memahami Minnie istrinya. Sistem patriarkal yang dianut telah menempatkan pria pada posisi kuat sehingga memandang remeh pada posisi wanita yang dianggap lemah. Hal inilah yang membuat John tidak bisa melihat bahkan memahami apa yang menjadi perhatian dan kebutuhan Minnie dalam hidupnya. Ia sudah terbiasa dengan hal-hal remeh yang dikerjakan oleh istrinya dan bahkan menganggap remeh apa yang telah menjadi kesenangannya. Begitu ia membunuh burung Kenari kesayangan istrinya ia masih dalam pendapatnya yang patriarkal, yaitu pria lah yang memutuskan apa yang wanita harus lakukan, bahkan untuk kesenangan sekalipun. Sehingga bagi John, matinya burung Kenari Minnie tidak akan merisaukannya.

Sebaliknya, Minnie sebagai pihak yang merasa selalu dianiaya ternyata sadar atas apa yang telah diperolehnya selama ini. Bagi Minnie, pertemanannya dengan burung itu telah menyadarkannya pada arti sebuah kebebasan. Kebebasan dari rutinitas kerja yang melelahkan, kebebasan dari perasaan-perasaan tidak puas terhadap suaminya dan perlakuannya padanya, dan kebebasan untuk mengenang segala keinginannya untuk menjadi penyanyi pada waktu muda. Semua kebebasan itu bisa diraihnya manakala ia bersama burung Kenari itu. Akhirnya, dengan diipicu oleh rasa sakit hati dan kecewa karena kematian burung kesayangannya, Minnie telah mengambil suatu tindakan yang luar biasa untuk dilakukan dimana pria adalah yang kuat dan berkuasa. Ia akhirnya membunuh suaminya sendiri dengan cara menjerat lehernya. Mungkin ia ingin memberi pelajaran bagi John bagaimana rasanya mati dengan leher seperti itu, persis apa yang dilakukan John pada burung Kenarinya.

Tindakan kriminal yang dilakukan Minnie digolongkan dalam suatu perbuatan yang cukup berani menentang arus. Tidak selayaknya seorang wanita mampu membunuh seorang pria, apalagi suaminya. Dimata hukum Minnie tentunya akan dihukum seberat-beratnya dan mungkin bisa hukuman mati. Nampaknya, dari apa yang dianggap remeh atau lemah muncullah suatu kekuatan yang tidak terduga. Ironis sekali bahwa wanita yang biasanya selalu tunduk pada sistem yang berlaku (patrarkal) harus tampil sebagai pelaku kejahatan terhadap suaminya sendiri. Dan yang lebih menyakitkan lagi, pria terlalu terlena dengan posisi mereka sehingga tidak menyadari hal-hal remeh di sekitar mereka yang bisa membahayakan kedudukannya.

3.3. Solidaritas Kaum Wanita dalam Nafas Feminisme
Ada beberapa alasan yang dapat dipakai sebagai acuan mengapa drama ini menggunakan judul “Trifles”. Pertama, nampaknya Glaspell ingin menunjukkan suatu bukti bahwa hal yang kecil tidak selalu remeh dan dilewatkan begitu saja. Kedua, tokoh-tokoh yang berperan adalah tokoh wanita yang dengan ketelitiannya melihat tanda-tanda atau motif pembunuhan itu. Hal ini dikontradiksikan dengan tokoh pria yang kurang teliti dalam mencari bukti-bukti. Ketiga, Glaspell mencoba sebuah kejutan dalam bentuk ketidaklaziman, yaitu wanita menganiaya pria, di dalam sistem patriarkal yang ada. Pendek kata, Glaspel seakan hendak memunculkan adanya kekuatan wanita dibalik hal-hal remeh yang biasa bersamanya.

Melalui tokoh Nyonya Hale, yang digambarkan sosok wanita pemberani dibandingkan Nyonya Peters yang terkesan penakut, karakter Minnie sebagai seorang wanita terlihat jelas. Minnie adalah korban sistem patriarkal sebagaimana kedua wanita tersebut. Misalnya, Nyonya Peters harus tunduk patuh pada suaminya yang seorang Sheriff. Begitu pula Nyonya Hale. Dua orang wanita ini adalah temannya Minnie. Hanya karena tanah pertanian tidak memungkinkan mempunyai tetangga dekat, mereka jarang datang mengunjungi Minnie dan sebaliknya. Tetapi, di dalam perilaku mereka selama penyelidikan terdapat rasa solidaritas yang cukup mengagumkan disamping kedudukan mereka sebagai pendamping suami masing-masing.

Solidaritas mereka timbul pada saat mereka sadar bahwa Minnie harus diselamatkan dari ancaman penjara. Hal itu muncul setelah mereka tahu apa yang terjadi sebelumnya dengan mempelajari bukti-bukti yang mereka temukan di dapur. Dari bukti-bukti itulah mereka merangkai kejadian yang sebelumnya terjadi dan menyimpulkan memang Minnie adalah pelaku pembunuhan itu.

Tetapi, sebelum pada kesimpulan untuk membela Minnie, terdapat beberapa hal menarik yang memicu rasa solidaritas mereka. Pertama, sikap para pria ternyata telah mengundang konflik dengan kedua wanita ini, terutama dengan Nyonya Hale. Nyonya Hale sangat tidak menyukai sikap County Attorney yang selalu meremehkan wanita dan pekerjaannya. Rasa tidak senangnya itu dilahirkannya lewat sebuah protes atas apa yang dikatakan County Attorney mengenai dapur Minnie.

County Attorney: … He goes to sink, takes a dipperful of water from the pail and, poring it into a basin, washes his hands. Starts to wipe them on the roller towel, turns it for a cleaner place.) Dirty towels! (kicks his foot against the pans under the sink) Not much of a housekeeper, would you say, ladies?

Mrs. Hale: Those towels get dirty awful quick. Men’s hands aren’t always as clean as they might be.
(Kennedy and Gioia, 2003:877)

Nyonya Hale begitu sinis dalam menyikapi komentar County Attorney tanpa harus mempertimbangkan bagaimana perasaannya. Di mata Nyonya Hales para pria hanya bisa bicara saja dan menganggap wanita seperti pembantu rumah tangga yang harus mengerjakan ini itu dengan beres. Dan mereka tidak pernah tahu menahu pekerjaan wanita di dapur. Mereka hanya bisa mengomentari apabila ada hal yang tidak beres.

Hal kedua ialah rasa bersalah sebagai sesama wanita. Nyonya Hale merasa bersalah pada Minnieyang telah sekian lama tidak dikunjunginya. Ia berpikir seandainyaia bisa lebih sering berkunjung tentunya Minnietidak akan merasa kesepian. Sekali lagi, sistem patriarkal kembali menjadi alasan mengapa ia tidak dapat melakukan hal itu.

Mrs. Hale: I could’ve come. I wish I had come over to see Minnie Foster sometimes. I can see now-(shakes her head).
(Kennedy and Gioia, 2003:878)

Disinilah letak pentingnya saling berbagi. Wanita sangat menikmati rasa berbagi dengan sesamanya tanpa harus merasa tertekan. Mereka bisa saling memecahkan masalah atau berbagi pengalaman. Hal inilah yang disesali Nyonya Hale atas kejadian yang menimpa Minnie.

Yang terakhir adalah rasa percaya yang ditujukan kepada Nyonya Peters, istri Sheriff, oleh para pria termasuk suaminya sendiri. Rasa percaya ini sangatlah penting bagi Nyonya Peters yang memiliki sikap penakut dan sikap patuh pada segala aturan yang sudah diatur oleh suaminya. Ia yakin bahwa pelaku harus diproses sesuai hukum seperti apa yang selama ini ia pegang teguh.


County Attorney: Oh I guess they’re not very dangerous things the ladies have picked up. (moves afew things about, disturbing the quilt pieces which cover the box. Steps back) No, Mrs. Peters doesn’t need supervising. For that matter, a sheriff’s wife is married to the law. Ever think of it that way, Mrs. Peters?
(Kennedy dan Gioia, 2003: 879)

Tetapi, begitu ia mendapat kepercayaan dari para pria tersebut (termasuk suaminya sendiri memandang tidak perlu mengkhawatirkan benda-benda yanng disentuh olehnya dan Nyonya Hale) ternyata ia segera menggabungkan diri dengan Nyonya Hale untuk melindungi Minnie. Ia tidak melaporkan adanya barang-barang bukti yang telah ditemukannya. Akhirnya lahirlah sebuah konspirasi untuk menyelamatkan Minnie atas dasar solidaritas wanita.

4. SIMPULAN
Akhirnya sampailah pada beberapa simpulan yang mengacu pada rumusan masalah di atas.

Pertama, aspek sosiologi mengenai dominasi pria terhadap wanita merupakan alat pemicu utama dari pergerakan wanita yang terlihat dalam drama “Trifles” ini. Gambaran-gambaran mengenai bentuk-bentuk dominasi tersebut berkisar pada masalah gender dan sistem patriarkal yang berlaku. Pria dengan leluasa dapat mengatur kehidupan wanita dan membatasi ruang geraknya. Bahkan, secara psikologis kehidupan wanita sangat bergantung pada pria. Untuk masalah menghibur dirinya saja, Minnie harus melihat kenyataan sulitnya memiliki kebebasan untuk menentukan kesenangannya sendiri. Disamping itu, dominasi pria terhadap kehidupan wanita melahirkan hegemoni yang cukup melelahkan bagi para wanita sehingga banyak hal yang mengejutkan muncul dalam perbuatan-perbuatan mereka. Misalnya, karena muak dengan tingkah laku pria yang suka megkritik pekerjaan wanita, Nyonya Hale tampil sebagai sosok pemberani dengan bersikap sangat sinis. Selain itu, Nyonya Peters pun melakukan aksi yang luar biasa dengan tidak melaporkan barang bukti yang ditemukan.

Kedua, tindak kriminal yang dilakukan oleh seorang istri terhadap suaminya nampaknya lebih cenderung pada tekanan-tekanan psikologis yang membebani dalam waktu yang cukup lama. Pada akhirnya, beban itu terasa semakin berat dan pada saat ada alasan yang cukupmendasar untuk melepaskan beban itu, muncullah tindakan yang tidak lazim (tindakan kriminal) Hal yang mendasari perbuatan Minnie adalah posisi dirinya sebagai korban sistem gender dan patriarkal. Sebagai wanita ia telah didoktrin untukmelakukan serentetan tugas rutin yang tidak semestinya pria untuk mengerjakan. Sebagai seorang istri, ia harus tunduk patuh pada peraturan yang secara sosial ekonomi diberlakukan. Dari dua himpitan inilah ia ingin mencoba mencari celah kebebasan dengan menciptakan kesenangan sendiri (memiliki burung Kenari). Tetapi ia lupa bahwa kebebasan yang ia ciptakan itu ternyata masih harus mengikuti pola yang sama. Di sini nampaknya upaya yang dilakukan wanita untuk menentang dominasi pria terlihat klimaksnya dalam bentuk pembunuhan disamping terlihat sikap-sikap lainnya yang ditunjukkan oleh kedua tokoh wanita.
Ketiga, masalah solidaritas wanita muncul karena ada unsur kepentingan yang mendasar mengenai feminisme. Perasaan sebagai makhluk dibawah pria, makhluk lemah yang tidak punya kekuatan, dan selalu diremehkan keberadaannya membuahkan sebuah persaudaraan yang cukup hebat diantara para wanita. Inilah nafas feminisme.

Meskipun kedudukan mereka sebagai istri hamba hukum (Nyonya Peters) dan istri saksi utama (Nyonya Hale), mereka ternyata sepakat untuk menyelematkan Minnie teman mereka dari ancaman penjara. Solidaritas itu muncul pada saat mereka sadar bahwa sebagai sesama wanita mereka telah mengalami nasib yang sama dengan Minnie dibawah dominasi pria. Ketidakmampuan para pria menghargai wanita dan pekerjaannya telah menunjukkan jalan bagi kedua wanita tadi untuk menghargai apayangtelah dilakukan Minnie dengan kebebasan kecilnya. Sebagai sesama wanita mereka bisa memahami arti kebebasan sehingga pada saat dihadapkan pada pilihan: mengatakan yang sebenarnya mengenai bukti-bukti atau menghilangkannya, mereka akhirnya bisa memutuskan yang mana.

Akhirnya, simpulan ini pun tidak terlepas dari apa yang dikatakan sebelumnya mengenai nada penulis drama ini. Sikap Glaspell tercermin dengan jelas melalui tokoh-tokoh yang ditampilkannya. Secara gamblang ia mempertontonkan sebuah konspirasi unik tokoh wanitanyayang kemudian bisa dikatakan sebagai bentuk gerakan wanita terhadap feminisme. Glaspell sangat mendukung tokoh-tokoh wanitanya dalam berbagai ekspresi. Terlihatbagaimana ekspresisinis Nyonya Hale yang mengecam County Attorney, bagaimana kedua wanita itu membela Minnie, dsb. Pada dasarnya mereka menginginkan persamaan hak antara wanita dan pria.

Hal yang menarik adalah bagaimana Glaspell mengatur alur. Pada awalnya, terlihat tidak ada tanda-tanda “pemberontakan” padadiri tokoh wanita. Tetapi setelah melalui konflik antar tokoh dan antar diri sendiri, muncullah bentuk-bentuk “pemberontakan”. Bentuk-bentuk itu diwujudkan dalam sikap bicara, perbuatan, dan pengambilan keputusan yang tentu saja mengejutkan. Dengan kata lain, Glaspell telah memotret sebuah bentuk supeioritas wanita dan telah mengumandangkan semangat feminisme melalui tokoh-tokohnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar